Jumat, 11 November 2011

LAYANAN BIMBINGAN “PENGUMPULAN DATA”

Dalam Bab 3 C, 1, telah disebutkan pengumpulan data (appraisal) sebagai salah satu komponen dalam program bimbingan, yang sekaligus menjadi salah satu layanan  bimbingan. Komponen ini mencakup semua usaha untuk memperoleh data tentang siswa dan mahasiswa, menganalisis dan menafsirkan data, serta menyimpan data itu. Tujuan dari pengumpulan data ialah mendaparkan pengertian yang lebih luas, lebih lengkap dan lebih mendalam tentang masing-masing peserta didik, serta membantu siswa dan mahasiswa memperoleh pemahaman akan diri sendiri.
Layanan bimbingan pengumpulan data yang bermutu tinggi harus terintegrasi, kontinu dan berkesinambungan, serta bermanfaat. Terintegrasi berarti bahwa seharusnya digunakan baik alat-alat tes seperti tes bakat dan tes minat, maupun alat-alat non tes, seperti anekdota dan skala penilaian.
Dalam rangka layanan pengumpulan data dijenjang pendidikan menengah pada umumnya dibutuhkan data tentang masing-masing peserta dalam aspek-aspek sebagai berikut:
a.       Latar belakang keluarga
b.      Riwayat sekolah
c.  Taraf prestasi dalam bidang-bidang studi yang mempunyai relevansi bagi perencanaan pendidikan lanjutan dan penentuan jabatan kelak
d.      Taraf kemampuan intelektual atau kemampuan akademik
e.       Bakat khusus
f.       Minat terhadap bidang studi dan bidang pekerjaan tertentu
g.      pengalaman diluar sekolah
h.      ciri-ciri kepribadian yang tidak termasuk dalam nomor (4), (5), dan (6) di atas
i.        kesehatan jasmani
      Dalam uraian selanjutnya akan dibahas sebagai alat tes dan alat nontes yang tersedia untuk memperoleh data psikologis dan data sosial, yang kemudian ditafsirkan dalam hubungannya satu sama lain. Mengingat kenyataan, bahwa konselor tidak menciptakan sendiri alat-alat tes dan mempergunakan alat-alat tes yang dikonstruksi serta diadministrasi oleh orang lain.

A.    Alat – Alat Tes
1.      Aspek-Aspek Testing yang Relevan
Testing adalah suatu metode penilaian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti. Alat yang digunakan adalahtes yang distandarisasikan yang memuat koleksi persoalan, pertanyaan atau tugas yang dianggap representatif bagi aspek bersangkutan. Standarisasi berarti bahwa cara penyelenggaraan tes, cara memeriksanya dan penentuan norma penafsiran adalah seragam. Tes merupakan instrumen penilaian yang obyektif, dalam arti bahwa penyelenggaraan, pemeriksaan atau skoring, dan penafsiran tidak tergantung pada pendapat pribadi orang yang menggunakan alat tes itu.
Pengertian validitas menunjuk pada kesesuaian antara apa yang diteliti dalam tes dengan aspek yang direncanakan untuk diteliti melalui tes itu. Terdapat empat jenis validitas, yaitu validitas isi, validitas peramal, validitas perbandingan, dan validitas konseptual. Jenis validitas tes yang paling relevan bagi pelayana bimbingan disekolah adalah validitas isi dan validitas peramal.
Pengertian reliabilitas menunjuk pada keajegan dalam hasil yang diperoleh bila mana seseorang mengerjakan suatu tes pada waktu yang berlainan. Bila mana taraf reliabilitas tes tertentu tinggi, berarti bahwa hasil yang diperoleh pada saat sekarang dan beberapa waktu kemudian tidak akan jauh berbeda. Alat-alat tes akan digunakan dengan tujuan tertentu. Keempat tujuan yang pokok adalah sebagai berikut :
a.       Untuk meramalkan atau memperkirakan
b.      Untuk mengadakan seleksi
c.       Untuk mengadakan klasifikasi
d.      Untuk mengadakan evaluasi
Keterlibatan seorang konselor sekolah dalam testing terutama berkaitan dengan tugasnya mendampingi siswa dan mahasiswa secara individual untuk mengembangkan diri secara maksimal dan menyusun rencana masa depan secara realistis.

2.      Pemberian Alat-Alat Tes Menurut Isi
Adapun pemberian alat-alat tes menurut aspek isi adalah sebagai berikut :
a.       Tes hasil belajar, yang mengukur apa yang telah dipelajari diberbagai bidang studi. Tipe tes hasil belajar yang khusus adalah tes kesiapan, yang bertujuan memperkirakan sampai berapa jauh subyek dapat mengambil manfaat dari suatu program pendidikan.
b.  Tes kemampuan intelektual, yang mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah.
c.  Tes kemampuan khusus atau tes bakat khusus, yang mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu; lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual.
d.   Tes minat, yang mengukur kegiatan/kesibukan macam apa paling disukai seseorang tes macam ini bertujuan membantu orang muda dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paing sesuai baginya.
e.     Tes perkembangan vokasional, yang mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan; dalam memeikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan ciri kepribadiannya serta beraneka tuntutan sosial ekonomis dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri.
f.    Tes kepribadian, yang mengukur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, gaya temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, jaringan relasi sosial dengan orang lain, dan aneka bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri.

3.      Program Testing dan Penggunaan Hasil Testing
Secara ideal siswa-siswi dijenjang pendidikan dasar samapi dengan jenjang pendidikan menengah dikenakan sejumlah tes yang diberikan pada waktu-waktu tertentu. Inilah program testing yang berlaku bagi semua siswa dan merupakan program testing umum. Program testing umum ini diselenggarakan atas tanggung jawab institusi pendidikan. Data hasil program testing umum dapat sangat berguna bagi keperluan pelayanan bimbingan.
Dalam rangka program testing khusus dianjurkan supaya tes diagnostik dan tes kesiapan diberikan secara individual menurut kebutuhan. Demikian pula tes kemampuan khusus, tes perkembangan vokasional, tes minat dan tes kepribadian menurut kebutuhan yang tampak dalam proses konseling.
Dalam hal testing hasil belajar, tenaga pengajarlah yang harus meninjau relevansi isi tes terhadap materi suatu bidang studi dalam hal testing kemampuan intelektual petugas bimbinganlah yang dapat memberikan pandangan mengenai relevansi tes terhadap tujuan pendidikan institusional. Dalam rangka program testing khusus petugas bimbinganlah yang paling berwenang melalui kegunaan tes kemampuan khusus, tes minat, tes perkembangan vokasional dan tes kepribadian. Dalam keadaan ini testing dapat bermanfaat bagi :
a.     Konselor, untuk menentukan apakah dia mampu dan cukup berwenang untuk memberikan pelayanan dan untuk memperoleh gambaran global tentang inti permasalahan serta taraf berat ringannya, sebelum konseling yang sebenarnya dimulai.
b.    Konselor, untuk memperoleh gambaran lebih mendalam dan lebih lengkap tentang berbagai aspek dalam kepribadian konseli dan dengan demikian dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.
c.      Konseli, untuk dapat menentukan apakah suatu program pendidikan lanjutan atau jenis pekerjaan sesuai baginya atau tidak.
d.    Konseli, untuk memahami dirinya dengan lebih baik, juga sebelum dihadapkan pada keharusan untuk membuat suatu pilihan mengenai program studi atau jenis pekerjaan.

Sama seperti dalam program testing umum, konseli harus bermotivasi baik sebelum akan menempuh suatu tes psikologis, supaya bersikap serius dalam mengerjakannya dan lebih siap menerima hasilnya sebagai informasi yng berguna baginya, juga bila mana hasilnya seperti yang diharapkan. Testing tidak dapat dipaksakan, tetapi boleh dianjurkan bila data yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh dengan lain cara dan tersedia tes yang relevan. Penentuan tentang tes mana yang paling relevan bagi kebutuhan konseli adalah wewenang konselor di institusi pendidikan, yang seharusnya mengetahui kelebihan dan kelemahan dari tes-tes yang tersedia, biarpun bukan konselor sendiri yang mengadministrasikan. Data hasil testing dan laporan hasil testing yang dikirimkan oleh psikolog atau lembaga yang berwenang, tidak terbuka bagi siapa saja tetapi hanya untuk mereka yang berkepentingan dan menggunakan informasi itu untuk membentu konseli.

B.     Alat – Alat Nontes
Meskipunsuatu alat tes dapat sangat bermanfaat untuk memperoleh data tentang siswa, namun penggunaan alat itu pula mengandung kelemahan dan keterbatasan. Oleh karena itu, diperlukan juga alat-alat nontes sebagai alat pengumpul data, khususnya dalam hal memperoleh data sosial yang relevan, untuk menyimpan serta mengolah keseluruhan data yang masuk.
1.      Angket Tertulis
Alat ini memeuta sejumlah item atau pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara tertulis juga. Dengan mengisi angket ini siswa memberikan keterangan tentang sejumlah hal yang relevan bagi keperluan bimbingan, seperti keterangan tentang keluarga, kesehatan jasmani, riwayat pendidikan sekolah, pengalaman belajar disekolah dan dirumah, pergaulan sosial, rencana pendidikan lanjutan, kegiatan diluar sekolah, hobi dan kesukaran yang mungkin dihadapi. Kelemahannya ialah: siswa tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut karena jawabannya terbatas pada hal-hal yang ditanyakan; siswa dapat sja menjawab tidak sesuai dengan keadaan yang sebenanrnya kalau dia mnghendaki demikian; jawaban hanya mengungkapkan keadaan siswa pada saat angket diisi. Bentuk aitem atau pertanyaan terbuka yang memungkinkan siswa menjawab secara agak luas; atau pertanyaan tertutup, yag mengharuskan siswa memilih saah satu alternatif; atau pertanyaan campuran. Adapun persayaratan konstruksi adalah sebagai berikut :
a)      Ditentukan dengan tujuan apa angket diberikan dan dipikirkan luas informasi yang dibutuhkan
b)   Harus ada introduksi yang menjelaskan kepada siswa dengan tujuan apa mereka diminta mengisi angket, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
c)      Perumusan semua aitem harus jelas dan isinya mudah ditangkap
d)     Suatu item jangan menanyakan dua hal sekaligus
e)      Jangan ditanyakan hal-hal yang dirasa mempermalukan atau mempunyai konotasi emosional negatif.
f)   Perumusan item jangan mengandung petunjuk tentang jawaban yang baik atau mengandung sugesti mengenai jawaban yang ideal.
g)      Bilaman item tertentu ada lanjutannya, sebaiknya dipisahkan menjadi dua bagian; bagian pertama dapat dijawab dengan ya-tidak lebih dahulu.
h)      Susunan teknis perlu diperhatikan.
i)        Suatu butir yang cara menjawabya berbeda dengan butir lainnya, harus disertai instruksi yang jelas.
j)        Pengisisna angket harus dilangsungkan pada waktu yang tepat.
k)   Mengingat keadaan siswa dalam beberapa hal mungkinsudah berubah pada waktu setahun sesudah mengisi angket untuk pertama kali, angket dapat dikembalikan kepada siswa dikelas II dan III untuk disesuaikan seperlunya dngan menggunakan alat tulis yang berbeda warnanya.

Setelah semua angket diisi, lalu dikumpulkan untuk dipelajari dan diolah oleh orang yang disebut dalam introduksi angket. Jawaban-jawaban yang mencolok dapat ditandai atau dicatat pada kertas khusus untuk keperluan petugas bimbingan sendiri. Kemudian item-iten tertentu disalin kedalam kartu pribadi sebagai alat sentral penyimpanan data sebagaimana akan diuraikan kemudian.
Dapat pula disusun angket untuk diisi oleh orang tua, sebagai sarana untuk mendapatkan informasi tambahan tentang siswa. Manfaat dan kegunaan angket bagi orang tua harus dipertimbangkan secara matang, karena tidak semua orangtua akan memberikan informasi obyektif seperti yang diharapkan. Kecenderungan orang tua biasanya ingin melindungi nama baik keluarga dengan menyembunyikan beberapa hal.

2.      Wawancara Informasi
Wawancara informasi adalah alat pengumpulan data untuk memperoleh data dan informasi dari siswa secara lisan. Selama pertemuan itu petugas bimbingan mengajukan pertanyaa, minta penjelasan atau sebagai jawaban yang diberikan, dan membuat catatan mengenai hal-hal yang diungkapkan kepadanya. Wawancara informasi digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang sulit diperoleh dengan lain cara, untuk melengkapi data dan informasi yang sudah terkumpul dengan lain cara untuk mengecek kebenaran dan fakta dan data yang telah diketahui melalui saluran lain; dan untuk mengadakan observasi terhadap tingkah laku siswa.
Keunggulan dari wawancara informasi ialah; diperoleh informasi dalam suasana komunikasi langsung yang memungkinkan siswa selain memberitahukan data faktual seperti yang banyak ditanyakan dalam angket tertulis, juga mengugkapkan sikap, pikiran, harapan dan perasaan; perumusan pertanyaan informatif dapat disesuaikan dengan daa tangkap siswa dapat ditanyakan hal-hal yang bersifat sensitif. Hambatan yang dapat timbul ialah : makan banyak waktu dan energi bagi petugas bimbingan; siswa berprasangka terhadap petugas bimbingan dan memberikan informasi yang tidak sesuai dengan keadaan yng sebenarnya atau tidak lengkap; petugas bimbingan mendengarkan terlalu selektif atau bertanya-tanya dengan cara yang segestif; pembuatan catatan memberikan kesan kepada siswa bahwa dia sedang berhadapan dengan petugas bimbingan. Mewawancarai seorang siswa menuntut keterampilan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a)      Mengadakan persiapan
b)      Berpegang pada urutan fase dalam wawancara
c)      Menunjukkan sikap yang serasi
d)  Merumuskan pertanyaan dalam corak bahasa yang jelas dan mudah ditangkap dengan menghindari istilah terlalu teknis dan bahasa asing.
e)  Tidak memaksa-maksa siswa yang sulit berbicara atau lambat dalam menjawab untuk memberikan penjelasan panjang lebar.
f)       Membatasi lamanya wawancara; lebih kurang 45 menit biasanya sudah cukup.
g)      Menghindari perumusan pertanyaan sugestif.
h)   Berwaspadalah terhadap kemungkinan bahwa informasi yang diberikan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atau siswa menghindari jawaban yang terbuka terhadap pertanyaan tertentu.
i)        Minta izin kepada siswa untuk membuat catatan seperlunya.

3.      Otobiografi
Merupakan karangan yang ditulis oleh siswa mengenai riwayat hidupnya sampai pada saat sekarang. Riwayat hidup dapat mencakup keseluruhan hidupnya yang lampau atau hanya satu dua aspek kehidupannya saja. Manfaat dari menulis suatu otobiografi tergantung dari kerelaan siswa untuk membuka diri. Dari segi bentuk, otobiografi dibedakan atas bentuk yang terstruktur atau yang terbatas pada topik-topik tertentu, dan yang tidak terstruktur atau yang komprehensif.
Meskipun semua siswa dapat mengambil manfaat dari penulisan otobiografi, namun mengingat keterbatasan tenaga bimbingan yang berkompeten untuk menggunakan alat ini dan keterbatasan waktu untuk mengolah semua karapan ini secara memadai, hanya beberapa siswa akan menjadi menulis otobiografi dan ini pun dalam kaitan dengan masalah yang dibahas dalam rangka wawancara konseling. Konseling harus mengindahkan berbagai ketentuan sebagai berikut :
a.       Harus ada kepastian bahwa penulisan otobiografi akan membantu siswa dalam mengatasi masalah yang dihadapi sekarang ini.
b.      Konseli tidak boleh dipaksa untuk menulis otobiografi.
c.   Konselor harus menilai dahulu, apakah siswa memang mampu untuk mengungkapkan semua secara tertulis dan sudah cukup matang dalam hal refleksi diri.
d.      Konselor perlu menekankan bahwa segi teknik pembahasan tidak akan diperhatikan; spontanitas dalam ekspresi dan keterbukaanlah yang diharapkan, bukan kesempurnaan dalam teknik penulisan.
e.   Pada umumnya lebih baik konselor memberikan beberapa petunjuk tentang topik-topik yang harus diungkapkan dengan memperhatikan masalah yang sedang dicari penyelesaiannya.
f.       Kerahasiaan otobiografi harus dijamin seutuhnya.
g.      Dalam mengadakan interpretasi konselor akan mencari jawaban atas serentetan pertanyaan
h.  Seandainya konseli tidak menerima usul untuk menulis otobiografi atau dipandang kurang mampu menyusunnya, konseli dapat ditanyai apakah dia mempunyai suatu buku harian yang diisi secara berskala.
i.      Kadang-kadang sepucuk surat yang berisi ungkapan permasalahan bersama latar belakangnya, sedikit banyak dapat menggantikan otobiografi.

4.      Anekdota
Anekdota merupakan laporan singkat tentang perilaku seseorang siswa dan memuat deskripsi obyektif tentang tingkah laku siswa pada saat tertentu. Maka suatu anekdota yang baik memuat unsur pokok sebagai berikut; nama siswa; tanggal observasi; tempat observasi; situasi dimana perbuatan diobservasi.
Yang menulis laporan anekdota adalah tenaga pendidik, baik guru maupun nonguru yang sempat mengobservasi tingkah laku siswa dan siswi dalam berbagai situasi disekolah. Tujuan dari penulisan anekdota adalah mengumpulkan informasi yang relevan tentang kepribadian siswa melalui pencatatan fakta yang diamati dalam lingkungan sekolah. Supaya penggunaan anekdota bermanfaat bagi keperluan bimbingan, harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut :
a.    Koordinasi bimbingan pada awal tahun ajaran mencari bantuan dari beberapa guru dan tenaga bimbingan yang berminat berpartisipasi dalam proyek ini dan bersedia untuk menyisihkan waktu guna menulis sejumlah anekdota.
b.    Koordinator bimbingan merundingkan tujuan yang ingin dicapai dan segi-segi teknik penulisan, antara lain format yang digunakan, corak deskripsi, pemisahan komentar dari bagian yang memuat deskripsi, laporan kata-kata yang diucapkan secara harfiah.
c.       Diputuskan bersama, siswa siwi yang akan observasi
d.      Ditentukan bersama prosedur yang akan diikuti
e.  Disepakati bersama peristiwa atau kejadian yang bagaimana, yang dapat dianggap signifikan dan menyatakan sesuatu tentang kepribadian siswa.
f.   Menjelang akhir semester atau menjelang akhir tahun ajaran, ahli bimbingan yang diserahi sejumlah anekdota mengambil tumpukan anekdota dan menyusun suatu seri anekdota untuk masing-masing siswa.
g.   Proyek semacam ini baru boleh dimulai setelah ada  jaminan tentang partisifasi seluruh staf tenaga pendidik.

5.      Skala Penilaian
Skala penilaian merupakan sebuah daftar yang menyajikan sejumlah sifat sebagai butir atau item. Penilaian diberikan berdasarkan observasi spontan terhadap perilaku orang lain, yang berlangsung dalam bergaul dan berkomunikasi sosial dengan orang itu selama periode waktu tertentu. Terdapat beberapa tipe skala penilaian antara lain :
a.   Skala numerik. Skala ini menggunakan rentetan angka untuk menunjukkan titik gradasi disertai penjelasan singkat pada masing-masing angka.
b.      Skala penilaian grafis. Skala ini menggunakan suatu garis sebagai kontinum.
c.   Daftar cek. Skala ini menyerupai item dalam tes hasil belajar, bentuk obyektif dengan tipe pilihan berganda.

6.      Sosiometri
    Sosiometri merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai sedang (10-50 orang), berdasarkan preferensi antara anggota kelompok satu sama lain. Tes sosiometri ada dua macam, yaitu tes yang mengharuskan untuk memilih beberapa teman dalam kelompok sebagai pernyataan kesukaan untuk melakukan kegiatan tertentu bersama dengan sosok teman yang dipilih, dan tes yang mengharuskna menyatakan kesukaannya atau ketidaksukaannya terhadap teman-teman dalam kelompok pada umumnya. Ciri khas dari penggunaan angket sosiometri atau tes sosiometri yang terikat pada situasi pergaulan sosial kreterium tertentu adalah :
a.       Dijelaskan kepada siswa yang tergabung dalam suatu kelompok.
b.  Setiap siswa diminta untuk menulis pada blanko yang disediakan nama beberapa teman didalam kelompok, dengan siapa dia ingin dan lebih suka melakukan kegiatan itu.
c.     Setiap siswa dalam kelompok menangkap dengan jelas kegiatan apa yang dimaksud dengan mengetahui bahwa kegiatan itu terbuka bagi semua.
d.  Pilihan-pilihan yang ditulis pada lembar jawaban tidak diberitahukan satu sama lain dan juga tidak diumumkan oleh tenaga pendidik yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tes dan pembentukan beberapa kelompok.
Cara mengolah data ada tiga, yaitu mengadakan analisa indeks, menyusun tabel atau membuat sosiogram.

7.      Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah bertujuan lebih mengenal lingkungan hidup siswa sehari-hari, bila informasi yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh melalui angket atau wawancara informasi. Mungkin juga petugas bimbingan mengadakan kunjungan rumah khusus untuk membicarakan kasus seoarng siswa bila memerlukan kerja sama dengan orang tua meskipun orang tua dalam hal ini orang tua biasanya diundang keselkolah. Bilamana petugas siswa menganggap perlu atau sangat berguna untuk mengadakan kunjungan rumah, harus diperhatkan hal-hal sebagai berikut :
a.       Mengadakan persiapan mental sebelumnya; mengenai hal-hal/informasi apa yang ingin diperoleh.
b.      Meghindari memberikan kesan seolah-olah diadakan pemeriksaan yang dibutuhkan.
c.       Harus ada kepastian sebelum berkunjung, bahwa kedatangan petugas bimbingan akan disambut dengan baik.
d.      Informasi yang dapat dikumpulkan biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut :
1)   Letak rumah dan keadaan didalam rumah
2)   Fasilitas belajar yang tersedia bagi siswa
3)   Kebiasaan belajar siswa
4)   Suasana keluarga
e.       Sesudah kembali dari kunjungan rumah, petugas bimbingan menyusun laporan singkat tentang informasi yang diperoleh, dengan membedakan antara fakta serta data dan kesan pribadi yang merupakan interpretasi terhadap informasi.

8.      Kartu Pribadi
Kartu pribadi merupakan aplikasi dari penyusunan suatu arsip yang memuat data penting tentang seseorang. Dalam bahasa inggris arsip itu dikenal dengan nama cumulative record, yaitu seri catatan yang disusun secara kronologis dan semakin bertambah luas karena penambahan data secara kontinu. Dalam rangka pelayanan bimbingan disekolah, cumulative record berarti: suatu seri catatan tentang masing-masing siswa yang disusun selama beberapa tahun dan memuat data yang signifikan bagi keperluan bimbingan.

9.      Studi Kasus
Stud kasus dalam rangka pelayanan bimbingan merupakan metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seseorang siswa secara lengkap dan mendalam, dengan tujuan memahami individualitas siswa dengan lebih baik dan membantunya dalam perkembangan selanjutnya.



Daftar Pustaka
Winkel, W.S. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta:Media Abadi

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates