Kamis, 20 Desember 2012


Penyempurnaan Tugas UAS Psikologi Belajar

tema
Perbandingan penugasan pada psikologi belajar dengan mata kuliah lain di semester ini

Psikologi belajar merupakan matakuliah pilihan di semester v (lima). Disemester ini juga banyak beberapa mata kuliah pilihan lain yang menarik, namun dari awal pergantian semester saya sudah berencana untuk mengambil mata kuliah ini, karena berdasarkan pengalaman yang sebelumnya saya pernah mengambil matakuliah bimbingan &  konseling sekolah dengan dosen pengampu yang sama, pada matakuliah tersebut berlangsung menarik karena berbagai macam metode pembelajaran menarik yang digunakan didalam kelas.
Matakuliah psikologi belajar sebagai matakuliah pilihan ternyata cukup banyak juga mahasiswa yang mengambil matakuliah disemester ini dengan jumlah 47 mahasiswa yang terdiri dari berbagai angkatan seperti angkatan 2008, 2009, dan 2010. Setelah saya mulai memasuki matakuliah psikologi belajar ini ternyata banyak hal yang menarik dengan metode pembelajaran yang digunakan dan hampir setiap memasuki kelas metode yang digunakan dalam pembelajaran berbeda-beda. Seperti misalnya dosen menggunakan metode mindmap. Metode ini merupakan metode mencatat kreatif yang berbentuk seperti pemetaan yang dapat memudahkan kita untuk mengingat banyak informasi. Dengan menggunakan metode ini akan lebih membantu dalam proses belajar, karena belajar merupakan proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat mengadapi tugas yang kompleks.
Penggunaan metode mindmap ini juga dapat dikaitkan dengan analisis yang telah dilakukan oleh Garner (1992) yang mengindikasikan bahwa banyak buku teks sulit dibaca, memuat informasi yang tidak relevan dengan topik, jarang memfokuskan pemelajar pada informasi penting, dan memuat pembahasan yang bertele-tele. Situasi seperti ini merupakan masalah bagi siswa maupun mahasiswa, namun jika kita menggunakan mindmap akan lebih memudahkan kita untuk memperoleh informasi yang diperoleh dari buku, dengan mengambil poin penting atau inti dari materi tersebut. Selain menggunakan mindmap, dosen juga menggunakan metode belajar seperti permainan kreativitas yang dilakukan didalam kelas yang nantinya akan dikaitkan dengan materi belajar dan disamping permainan kreativitas ini dilakukan terdapat reward dan punishment yang diberikan oleh dosen diakhir permainan selesai.
Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode dalam memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasinya. Selain motivasi, reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah dapat dicapainya. Sementara punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement positif, maka punishment sebagai bentuk reinforcement negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Tujuan dari metode ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang agar mereka jangan membuat sesuatu yang salah lagi. Jadi, hukuman yang dilakukan mesti bersifat pedagogies, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik ke arah yang lebih baik. Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para siswa maupun mahasiswa dalam meningkatkan prestasinya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang tenaga pendidik terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh anak didiknya, Punishment untuk perilaku yang salah dan reward untuk hasil yang baik. Selain terdapatnya reward dan punishment, metode belajar kreativitas seperti ini tentu akan lebih memudahkan mahasiswa untuk mengingat maupun memahami hal-hal yang paling penting dalam materi tersebut sehingga dapat memudahkan dalam proses belajar. Dengan metode yang seperti ini tentu belajar akan menyenangkan. Jika mahasiswa senang tentu akan lebih serius menerima pelajaran yang disampaikan pengajar dengan suasana menyenangkan dan rileks, maka potensi untuk menyerap materi-materi itu tentu lebih besar ketimbang dalam suasana membosankan. Suasana menyenangkan dan rileks itulah sesungguhnya faktor penting dalam sebuah kegiatan belajar.
Metode yang telah dilakukan dalam matakuliah psikologi belajar tidak hanya itu saja yang dilakukan. Matakuliah ini juga melakukan kunjungan kesekolah yang fungsinya untuk lebih dapat melihat langsung bagaimana proses belajar mengajar dikelas, media apa yang digunakan didalam kelas dan metode pembelajaran yang seperti apa yang digunakan pendidik untuk mendidik siswanya dalam proses belajar mengajar. Tentunya dengan adanya kunjungan langsung kesekolah seperti ini akan lebih memudahkan mahasiswa untuk lebih memahami teori-teori yang dipelajari daripada hanya dengan membaca saja tentu akan lebih sulit bagi mahasiswa untuk memahami atau membedakan setiap teori yang ada.
Dibandingkan dengan mata kuliah lain yang saya ambil disemester ini, tentu akan sangat berbeda jauh perbandingannya dengan mata kuliah psikologi belajar ini. Karena kebanyakan dari semua mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode persentasi dan satu mata kuliah menggunakan ceramah dari dosen. Dengan metode yang seperti ini menurut saya kurang efektif dilakukan, karena kebanyakan dari mahasiswa yang bukan sedang persentasi kurang memahami materi yang disampaikan, karena kebanyakan mereka yang duduk dibelakang sibuk dengan urusan masing-masing, atau bahkan ada yang sampai tertidur dikelas dan tentunya ini akan sangat menghambat proses belajar mengajar dikelas dan tentunya yang sedang persentasi akan lebih memahami tentang materi yang mereka persentasikan dan untuk materi selanjutnya kebanyakan dari mereka kurang memahaminya, dan tugas-tugas yang diberikan cenderung mengerjakan tugas yang sama dengan matakuliah lainnya seperti pembuatan makalah persentasi dan terkadang diberikan soal untuk dikerjakan dengan teman satu kelompok. Selain menggunakan metode persentasi ada juga mata kuliah yang saya ambil dengan menggunakan metode ceramah dari dosen.
Metode ini  merupakan metode yang paling umum atau paling banyak digunakan oleh tenaga pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah juga merupakan metode yang sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvesional atau pembelajaran yang berpusat pada dosen (teacher centered). Menurut saya dengan menggunakan metode yang seperti ini sudah kurang efektif untuk digunakan lagi, karena proses pemberian informasi yang satu arah yang hanya berpusat pada dosen kurang dapat membantu mahasiswa untuk memperoleh informasi yang lebih dalam lagi, dan proses belajar mengajarnya cenderung pasif dan bersifat membosankan dikelas. Ketika dosen sedang menjelaskan materi kebayakan mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing seperti bercerita dengan teman sebelahnya, ada yang tidur, sedang internetan, dsb. Hal ini tidak beda jauh dengan motode persentasi.
Matakuliah yang menggunakan metode ceramah ini sebenarnya juga memberikan tugas setiap minggunya pada masing-masing kelompok untuk mencari kasus yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari dan kasus tersebut akan dibahas dikelas oleh masing-masing kelompok sesuai dengan topik materi yang sedang diajarkan dan dosen juga sering memberikan beberapa soal pertanyaan yang harus dijawab setiap kelompok. Namun, permasalahannya dalam pengerjaan kasus atau tugas yang dikerjakan dikelas tidak semua anggota dalam kelompok tersebut ikut mengerjakannya, dan tentunya yang akan lebih memahami atau yang lebih menguasai adalah orang yang mengerjakan tugas tersebut. Dan hal ini tentu tidak memenuhi tiga prinsip dari pembelajaran yang efektif yang disebutkan oleh Gagne dalam analisis tugas latihan adalah : (a) memberikan pembelajaran mengenai seperangkat tugas final; (b) memastikan bahwa setiap tugas komponen dikuasai; dan (c) sekuensi tugas komponen untuk memastikan transfer yang optimal ke tugas final. Konsep Gagne mengenai analisis tugas belajar ke dalam subkomponen dan mengindikasikan keterampilan prasyarat yang dibutuhkan kemudian diadaptasikan untuk program pembelajaran dengan tujuan berbeda. Termasuk didalamnya adalah analisis aktivitas dan analisis tugas.
Pada dasarnya dosen adalah seorang pendidik. Pendidik yang dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh dosen adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting adalah performance dosen di kelas. Bagaimana seorang dosen dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian dosen harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Tiap-tiap matakuliah tentunya bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda dengan matakuliah lain. Untuk itu seorang dosen harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran dan memberikan berbagai jenis penugasan yang berbeda pula. Pada dasarnya metode apa pun yang digunakan dan jenis tugas apa yang diberikan tenaga pendidik merupakan hal yang sangat penting dalam belajar untuk memperoleh informasi baru. Karena belajar merupakan proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas kompleks.
Setiap metode pembelajaran dan penugasan yang diberikan oleh dosen tentunya memiliki kelebihan dan kekuranggannya masing-masing dan belum ada metode pembelajaran yang benar-benar sempurna untuk digunakan dalam pembelajaran. Akan tetapi, Gagne telah menjelaskan lima asumsi tentang desain pembelajaran, antara lain: (1) pembelajaran harus dirancang untuk memfasilitasi belajar siswa individual; (2) baik itu tahapan jangka panjang maupun menengah  harus dimasukkan dalam desain pembelajaran; (3) perencanaan pemblajaran tidak bolh sembarangan atau sekedar memberikan lingkungan yang mengasuh; (4) pembelajaran harus didesain menggunakan pendekatan system, dan (5) desain pembelajaran harus didasarkan pada cara manusia belajar. Prinsip Gagne untuk desin dan pengembangan pembelajaran adalah bagian dari upaya yang lebih besar yang dikenal sebagai desain system.
Ada lima variasi belajar yang dianggap oleh Gagne memenuhi kriteria adalah informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap dan strategi kognitif. Lima variasi ini merepresentasikan hasil belajar. Selain metode pembelajaran, dan lima jenis variasi belajar , Gagne mengindikasikan keadaan internal dan proses yang penting dalam mencapai masing-masing tipe belajar. Kedaan itu adalah kondisi belajar internal. Misalnya dalam mengembangkan sikap, orang harus memerhatikan dan mengamati semua model yang berperilaku dengan cara tepat. Akan tetapi, kondisi untuk mendapatkan keterampilan baru atau kapabilitas baru ini tidak semua ada dalam pemelajar. Yang juga penting adalah stimuli dalam lingkungan yang berinteraksi dengan pemrosesan internal pemelajar. Dukungan lingkungan ini adalah kondisi belajar eksternal. Kondisi ini juga mencakup pembelajaran dan didesain untuk mendukung belajar selain dari metode pengajaran yang digunakan.

Rabu, 19 Desember 2012

Tema
Perbandingan penugasan pada psikologi belajar dengan mata kuliah lain di semester ini

Psikologi belajar merupakan matakuliah pilihan di semester V (lima). Disemester ini juga banyak beberapa mata kuliah pilihan lain yang menarik, namun dari awal pergantian semester saya sudah berencana untuk mengambil mata kuliah ini, karena berdasarkan pengalaman yang sebelumnya saya pernah mengambil matakuliah bimbingan &  konseling sekolah dengan dosen pengampu yang sama, pada matakuliah tersebut berlangsung menarik karena berbagai macam metode pembelajaran menarik yang digunakan didalam kelas.
Matakuliah psikologi belajar sebagai matakuliah pilihan ternyata cukup banyak juga mahasiswa yang mengambil mata kuliah disemester ini dengan jumlah 47 mahasiswa yang terdiri dari berbagai angkatan seperti angkatan 2008, 2009, dan 2010. Setelah saya mulai memasuki matakuliah psikologi belajar ini ternyata banyak hal yang menarik dengan metode pembelajaran yang digunakan dan hampir setiap memasuki kelas metode yang digunakan dalam pembelajaran berbeda-beda. Seperti misalnya dosen menggunakan metode Mindmap. Metode ini merupakan metode mencatat kreatif yang berbentuk seperti pemetaan yang dapat memudahkan kita untuk mengingat banyak informasi. Dengan menggunakan metode ini akan lebih membantu dalam proses belajar, karena belajar merupakan proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat mengadapi tugas yang kompleks. Dan penggunaan metode mindmap ini juga dapat dikaitkan dengan analisis yang telah dilakukan oleh Garner (1992) yang mengindikasikan bahwa banyak buku teks sulit dibaca, memuat informasi yang tidak relevan dengan topik, jarang memfokuskan pemelajar pada informasi penting, dan memuat pembahasan yang bertele-tele. Situasi seperti ini merupakan masalah bagi siswa maupun mahasiswa, namun jika kita menggunakan mindmap akan lebih memudahkan kita untuk memperoleh informasi yang diperoleh dari buku, dengan mengambil poin penting atau inti dari materi tersebut.
Selain menggunakan mindmap, dosen juga menggunakan metode belajar seperti permainan kreativitas yang dilakukan didalam kelas yang nantinya akan dikaitkan dengan materi belajar, dan hal seperti ini tentu akan lebih memudahkan mahasiswa untuk mengingat maupun memahami hal-hal yang paling penting dalam materi tersebut sehingga dapat memudahkan dalam proses belajar. Dengan metode yang seperti ini tentu belajar akan menyenangkan. Jika mahasiswa senang tentu akan lebih serius menerima pelajaran yang disampaikan pengajar dengan suasana menyenangkan dan rileks, maka potensi untuk menyerap materi-materi itu tentu lebih besar ketimbang dalam suasana membosankan. Suasana menyenangkan dan rileks itulah sesungguhnya faktor penting dalam sebuah kegiatan belajar.
Tidak hanya metode itu saja yang dilakukan dalam matakuliah psikologi belajar. Matakuliah ini juga melakukan kunjungan kesekolah yang fungsinya untuk lebih dapat melihat langsung bagaimana proses belajar mengajar dikelas, media apa yang digunakan didalam kelas dan metode pembelajaran yang seperti apa yang digunakan pendidik untuk mendidik siswanya dalam proses belajar mengajar. Tentunya dengan adanya kunjungan langsung kesekolah seperti ini akan lebih memudahkan mahasiswa untuk lebih memahami teori-teori yang dipelajari daripada hanya dengan membaca saja tentu akan lebih sulit bagi mahasiswa untuk memahami atau membedakan setiap teori yang ada.
Jika dibandingkan dengan mata kuliah lain yang saya ambil disemester ini, tentu akan sangat berbeda jauh perbandingannya dengan mata kuliah psikologi belajar ini. Karena kebanyakan dari semua mata kuliah yang saya ambil menggunakan metode persentasi dan satu mata kuliah menggunakan ceramah dari dosen. Dengan metode yang seperti ini menurut saya kurang efektif dilakukan, karena kebanyakan dari mahasiswa yang bukan sedang persentasi kurang memahami materi yang disampaikan, karena kebanyakan mereka yang duduk dibelakang sibuk dengan urusan masing-masing, atau bahkan ada yang sampai tertidur dikelas dan tentunya ini akan sangat menghambat proses belajar mengajar dikelas dan tentunya yang sedang persentasi akan lebih memahami tentang materi yang mereka persentasikan dan untuk materi selanjutnya kebanyakan dari mereka kurang memahaminya, dan tugas-tugas yang diberikan cenderung mengerjakan tugas yang sama dengan matakuliah lainnya seperti pembuatan makalah persentasi dan terkadang diberikan soal untuk dikerjakan dengan teman satu kelompok.
Selain menggunakan metode persentasi ada juga mata kuliah yang saya ambil dengan menggunakan metode ceramah dari dosen. Metode ini  merupakan metode yang paling umum atau paling banyak digunakan oleh tenaga pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah juga merupakan metode yang sudah sejak lama digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvesional atau pembelajaran yang berpusat pada dosen (teacher centered). Menurut saya dengan menggunakan metode yang seperti ini sudah kurang efektif untuk digunakan lagi, karena proses pemberian informasi yang satu arah yang hanya berpusat pada dosen kurang dapat membantu mahasiswa untuk memperoleh informasi yang lebih dalam lagi, dan proses belajar mengajarnya cenderung pasif dan bersifat membosankan dikelas. Dan ketika dosen sedang menjelaskan materi kebayakan mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing seperti bercerita dengan teman sebelahnya, ada yang tidur, sedang internetan, dsb. Hal ini tidak beda jauh dengan motode persentasi.
Matakuliah yang dengan menggunakan metode ceramah ini sebenarnya juga memberikan tugas setiap minggu nya pada masing-masing kelompok untuk mencari kasus yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari dan kasus tersebut akan dibahas dikelas oleh masing-masing kelompok sesuai dengan topik materi yang sedang diajarkan dan dosen juga sering memberikan beberapa soal pertanyaan yang harus dijawab setiap kelompok. Namun, permasalahannya dalam pengerjaan kasus atau tugas yang dikerjakan dikelas tidak semua anggota dalam kelompok tersebut ikut mengerjakannya, dan tentunya yang akan lebih memahami atau yang lebih menguasai adalah orang yang mengerjakan tugas tersebut. Dan hal ini tentu tidak memenuhi tiga prinsip dari pembelajaran yang efektif yang disebutkan oleh Gagne dalam analisis tugas latihan adalah : (a) memberikan pembelajaran mengenai seperangkat tugas final; (b) memastikan bahwa setiap tugas komponen dikuasai; dan (c) sekuensi tugas komponen untuk memastikan transfer yang optimal ke tugas final. Konsep Gagne mengenai analisis tugas belajar ke dalam subkomponen dan mengindikasikan keterampilan prasyarat yang dibutuhkan kemudian diadaptasikan untuk program pembelajaran dengan tujuan berbeda. Termasuk didalamnya adalah analisis aktivitas dan analisis tugas.
Pada dasarnya dosen adalah seorang pendidik. Pendidik yang dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu serta mendewasakan anak didiknya. Salah satu hal yang harus dilakukan oleh dosen adalah dengan mengajar di kelas. Salah satu yang paling penting adalah performance dosen di kelas. Bagaimana seorang dosen dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian dosen harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Tiap-tiap matakuliah tentunya bisa kemungkinan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda dengan matakuliah lain. Untuk itu seorang dosen harus mampu menerapkan berbagai metode pembelajaran dan memberikan berbagai jenis penugasan yang berbeda pula. Pada dasarnya metode apa pun yang digunakan dan jenis tugas apa yang diberikan tenaga pendidik merupakan hal yang sangat penting dalam belajar untuk memperoleh informasi baru. Karena belajar merupakan proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas kompleks.
Setiap metode pembelajaran dan penugasan yang diberikan oleh dosen tentunya memiliki kelebihan dan kekuranggannya masing-masing dan belum ada metode pembelajaran yang benar-benar sempurna untuk digunakan dalam pembelajaran. Akan tetapi, Gagne telah menjelaskan lima asumsi tentang desain pembelajaran, antara lain: (1) pembelajaran harus dirancang untuk memfasilitasi belajar siswa individual; (2) baik itu tahapan jangka panjang maupun menengah  harus dimasukkan dalam desain pembelajaran; (3) perencanaan pemblajaran tidak bolh sembarangan atau sekedar memberikan lingkungan yang mengasuh; (4) pembelajaran harus didesain menggunakan pendekatan system, dan (5) desain pembelajaran harus didasarkan pada cara manusia belajar. Prinsip Gagne untuk desin dan pengembangan pembelajaran adalah bagian dari upaya yang lebih besar yang dikenal sebagai desain system.
Ada lima variasi belajar yang dianggap oleh Gagne memenuhi criteria adalah informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap dan strategi kognitif. Lima variasi ini merepresentasikan hasil belajar. Selain metode pembelajaran, dan lima jenis variasi belajar , Gagne mengindikasikan keadaan internal dan proses yang penting dalam mencapai masing-masing tipe belajar. Kedaan itu adalah kondisi belajar internal. Misalnya dalam mengembangkan sikap, orang harus memerhatikan dan mengamati semua model yang berperilaku dengan cara tepat. Akan tetapi, kondisi untuk mendapatkan keterampilan baru atau kapabilitas baru ini tidak semua ada dalam pemelajar. Yang juga penting adalah stimuli dalam lingkungan yang berinteraksi dengan pemrosesan internal pemelajar. Dukungan lingkungan ini adalah kondisi belajar eksternal. Kondisi ini juga mencakup pembelajaran dan didesain untuk mendukung belajar selain dari metode pengajaran yang digunakan.

Selasa, 18 Desember 2012

Bocah Berusia Tiga Tahun Miliki IQ 140

Inggris, Psikologi Zone – Saffron Pledger, bocah perempuan berusia tiga tahun di Inggris diketahui mempunyai Intelligence Quotient atau lebih dikenal dengan IQ dengan skor 140. Sebagai perbandingan, skor IQ Albert Einstein, ilmuwan jenius penemu teori relativitas adalah 160. Di Inggris, skor rata-rata IQ adalah 100.
Karena kecerdasannya itu, Saffron Pledger punya peluang menjadi salah satu anggota termuda Mensa, organisasi untuk orang dengan IQ tinggi yang kini mempunyai anggota lebih dari 100 ribu orang di dunia.
Saffron telah menjalani tes IQ. Saat ini, sedang dalam proses akreditasi akhir oleh Mensa. Saffron akan menjadi salah satu anggota termuda jika skor IQ-nya diterima. Bocah lain adalah Elise Tan Roberts dari London, yang bergabung dengan Mensa saat berusia dua tahun empat bulan.
Danny Pledger, ayah Saffron, mengungkapkan bahwa putrinya belajar abjad kala menonton acara kuis di TV, Countdown. Danny sendiri adalah pria berusia 23 tahun yang pernah menjuarai Countdown sebanyak delapan kali.
Saffron mampu menghitung hingga angka 50, mengerjakan soal matematika sederhana, membaca cerita, dan menulisini pada usia dini. Hal yang biasa diperoleh siswa saat awal sekolah.
“Saya cuma seorang anak kecil, tapi saya sangat senang bisa lulus tes (Mensa) bahkan jika mereka cukup keras. Saat tumbuh besar, saya ingin bermain mainan sepanjang hari. Saya ingin sekolah, melukis, menggambar serta berkeliling,” kata bocah tersebut seperti dikutip dari Telegraph, Jumat, 3 Juni 2011.
Menurut sang ayah, ia tidak tahu dari mana putrinya mewarisi kejeniusan itu.
“Saya tak tahu dari mana Saffron mendapat kecerdasan. Kami hanya mendorongnya, bahwa segala sesuatu yang dia dilakukan adalah pintar. Ia suka menonton Countdown bersama saya, itu membantunya belajar huruf. Ia sangat kompetitif. Semoga suatu hari ia menjadi lebih baik ketimbang saya,” Danny Pledger, yang juga seorang web designer.
Kirstie Pledger, Ibu Saffron, menyatakan kata pertama yang diucapkan putrinya adalah “bir”. Pada usia 18 bulan, Saffron bisa mengucapkan kalimat penuh. Bocah tersebut lebih dulu bicara sebelum bisa duduk.
“Ia lambat secara motorik, tapi, kemampuan berbicaranya sangat baik. Ia mampu menambah, mengurangi, membaca, dan menulis. Andai kami membawakan buku dari perpustakaan, saya akan membacakan kepadanya sekali dan iia akan membacakannya kembali kepada saya,” ujarnya.
Kirstie juga menyatakan, dia dan suaminya tak melakukan hal khusus untuk Saffron.
“Dan bila berada di luar rumah, kami melihat tanda-tanda dan membacakan untuknya,” pungkas ibu 23 tahun tersebut.

Sumber :

Kecemasan Terkait dengan IQ Tinggi

KOMPAS.com - Sebuah riset terbaru menemukan adanya hubungan antara tingkat kecemasan dan tingkat IQ. Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang didiagnosa mengalami gangguan kecemasan cenderung memiliki tingkat IQ yang lebih tinggi.
Bahkan jika dibandingkan orang sehat, mereka yang memiliki gangguan kecemasan cenderung memiliki skor IQ lebih tinggi serta tingkat aktivitas yang lebih tinggi di daerah otak, yang membantu dalam komunikasi antara bagian otak.
"Wilayah ini diperkirakan telah memberikan kontribusi bagi keberhasilan evolusi manusia," kata peneliti yang mempublikasikan risetnya pada 1 Februari 2012 dalam jurnal Frontiers di Evolusionary Neuroscience.

Dr Jeremy Coplan, pemimpin studi dan profesor psikiatri dari State University of New York Downstate Medical Center mengatakan, meskipun kita cenderung untuk melihat kecemasan sebagai suatu yang tidak baik, tapi hal ini sangat terkait dengan kecerdasan - suatu sifat yang sangat adaptif.
Dalam kajiannya, peneliti melibatkan 26 pasien dengan gangguan kecemasan dan 18 orang sehat untuk menyelesaikan ujian tes IQ. Peserta juga diminta mengisi kuisioner untuk menilai tingkat kecemasan mereka. Di antara peserta dengan gangguan kecemasan, mereka yang memiliki tingkat kekhawatiran lebih tinggi, memiliki tingkat IQ yang lebih tinggi pula.
Menariknya, hasil berbeda justru ditunjukkan pada pasien sehat. Mereka yang memiliki skor IQ lebih tinggi cenderung memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih rendah, dan mereka yang memiliki skor IQ rendah cenderung memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi.
Coplan mengungkapkan, seseorang yang memiliki sedikit rasa cemas dapat menimbulkan masalah bagi individu dan masyarakat. Karena orang-orang ini tidak mampu melihat bahaya apapun, bahkan ketika bahaya sudah dekat. "Jika orang-orang ini berada dalam posisi sebagai pemimpin, mereka akan menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa tidak perlu khawatir," kata Coplan.

Sumber :

Praktek Menyumbang 60 Persen Memori Anak

Jakarta, Psikologi Zone – Metode pengajaran untuk anak usia 1-6 tahun tidak cukup bila hanya melalui kata-kata, praktek langsung adalah salah cara yang efektif. Anak akan lebih cepat memahami bila mereka diberikan kesempatan untuk melakukan sendiri, sebab 60 persen ingatan anak berasal dari apa yang sudah ia lakukan.
Psikolog pendidikan anak usia dini, Novita Tandry, M.Psi mengatakan, memori anak dipengaruhi dari apa yang telah mereka lakukan, lihat dan dengar. Setiap porsi tersebut memiliki bobot sendiri dalam proses mengingat, paling besar adalah dari perbuatan sekitar 60 persen, sedangkan melihat 40 persen, dan mendengar hanya 30 persen.
“Yang paling bagus tentunya kalau ketiganya digabungkan. Melihat, mendengar sekaligus melakukannya sendiri akan membentuk 90 persen ingatan anak,” kata Novita dalam peresmian SGM Prestasi Center, Cilandak, Selasa (1/5).
Perlu bagi orang tua ataupun tenaga pendidikan usia dini untuk aktif memberikan stimulasi fisik agar perkembangan motorik kasar dan halus ikut berkembang. Melalui kegiatan aktif, anak tidak menjadi kutu buku yang hanya bisa melihat dan mendengar, namun juga mengaplikasikan.
Hal ini akan menjadi lebih efektif karena anak biasanya suka sekali bila diajak bermain. Mengenalkan aktivitas fisik sedini mungkin tidak hanya bermanfaat secara psikologis, namun juga kemampuan fisik dan juga keterbiasaan olahraga.
Stimulasi fisik tidak hanya terbatas pada aktivitas fisik saja, namun juga termasuk sentuhan fisik. Saat anak masih bayi, pijatan – pijatan lembut termasuk stimulasi fisik dan bermanfaat bagi perkembangan mental anak saat dewasa kelak.
“Kalau ada orang dewasa yang tidak romatis, tidak pernah memberi bunga pada pasangannya itu pasti waktu kecil kurang mendapat sentuhan. Makin sering diajak bersentuhan, anak-anak akan membentuk empati saat tumbuh dewasa,” kata lulusan University of New South Wales Australia ini.

Sumber :

Risiko Memperlakukan Anak Seperti Teman

Jakarta, Psikologi Zone – Saat ini banyak pasangan baru menikah yang ingin menjadikan anak mereka kelak seperti seorang teman. Tujuan mereka memang tidak buruk, hubungan antara keduanya akan lebih akrab dan terbuka. Namun, model pengasuhan ini juga memiliki sisi negatif. Anak lebih sulit disiplin dan bandel.
Psikolog klinis Profesor Tanya Byron dari Inggris mengatakan, anak-anak dapat berperilaku buruk bila orang tua takut untuk mendisiplinkannya. Membesarkan anak layaknya seorang teman, tentu membuat orangtua bukan lagi sosok yang harus dipatuhi. Anak tidak akan siap menghadapi dunia nyata.
“Saya merawat anak-anak di klinik yang mengalami gangguan perilaku akibat metode pengasuhan tersebut. Anak-anak usia 6 tahun dibawa ke klinik saya lantaran orangtuanya cemas saat mencoba untuk mengatur. Mereka kawatir anak menjadi tertekan,” kata Profesor Byron, dikutip Daily Mail, Minggu (22/7).
Menurutnya, anak-anak tersebut begitu terlindungi oleh orangtua yang takut mengecewakan mereka. Orangtua selalu berusaha agar anak tidak lepas dari jangkauan mereka sehingga kurang mendapatkan keterampilan hidup yang penting. Saat mereka menghadapi tantangan, anak akan kembali mengingat bagaimana nyamannya tinggal di rumah bersama orangtua.
Hal yang sama diutarakan oleh Dr Mary Bousted, orangtua tidak terbiasa mengatakan ‘tidak boleh’ pada anak-anak mereka.
“Orangtua tidak melakukan apapun karena ingin anak-anak mereka bahagia. Mereka akan mencoba membuat anak-anak berperilaku baik atau bahkan menebus kesalahan karena kurang perhatian dengan cara membelikan mainan atau gadget,” kata Dr Mary Bousted, Sekretaris Jenderal Association of Teachers and Lecturers di Inggris.
Dr Bousted menegaskan, orangtua hendaknya punya kepercayaan diri dalam membuat aturan, memberikan tugas pada anak, mendorong mereka menjadi mandiri, dan berkembang menjadi orang dewasa yang tangguh.

Sumber :

Hiperaktif Bisa Menetap Sampai Dewasa

Kompas.com - Gangguan perilaku berupa sulit berkonsentrasi dan hiperaktif (Attention Deficit Hyperactivity Disorder/ADHD) selama ini memang lebih dikenal pada anak-anak. Namun penelitian selama hampir dua dekade menunjukkan gangguan perilaku tersebut juga bisa menetap sampai usia dewasa namun tetap bisa diterapi.
Untuk menetapkan kriteria ADHD pada remaja dan orang dewasa, para psikiatri kini sedang dalam proses menulis ulang buku panduan penyakit mental, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) yang akan diterbitkan tahun 2013.
Pada DSM edisi yang kini beredar, ADHD didefinisikan sebagai gangguan perilaku pada anak, namun kriteria yang sama juga sering dipakai pada orang dewasa yang ingin diobservasi apakah mereka menderita ADHD. Dalam buku panduan terbaru, yang akan disebut DSM.5, para ahli psikiatri akan memasukkan kriteria ADHD pada orang dewasa.
Pada anak-anak, ADHD biasanya dicirikan dengan anak yang tidak bisa diam, suka meledak-medak, tidak mampu berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas. Sementara itu orang dewasa yang menderita ADHD biasanya sering menginterupsi orang yang sedang berbicara dan memiliki kesulitan menyelesaikan tengat dalam tugas.
Orang dewasa yang menderita ADHD juga sering merasa kelelahan, sementara di saat anak-anak mereka sering tidak bisa diam atau hiperaktif. Anak-anak ADHD juga biasanya impulsif.
Dr.Steven Cuffe, psikiatri dari University of Florida, AS, mengatakan gangguan ADHD memang bisa menetap sampai usia dewasa. Bahkan saat ini terjadi peningkatan kasus ADHD pada orang dewasa. "Beberapa tahun lalu ADHD diperkirakan dialami 3-5 persen anak. Kini prosentasenya naik menjadi 6-8 persen," katanya.
Ia memperkirakan, bila kriteria ADHD pada orang dewasa ini selesai dirumuskan para ahli ada kemungkinan jumlah orang dewasa yang didiagnosa ADHD akan meningkat.

Sumber :

Template by:

Free Blog Templates