50 Mitos Terbesar Dalam Dunia Psikologi
Mitos : Penderita Schizophrenia memiliki Kepribadian Ganda
FAKTA : Dalam sebuah survey, 77% mahasiswa psikologi percaya kalau
penderita schizophrenia adalah pemilik kepribadian ganda. Fim Me,
Myself, and Irene yang diperankan Jim Carrey juga mengeksploitasi mitos
ini. Ia didiagnosa menderita schizophrenia, padahal pada kenyataannya ia
menderita kepribadian ganda. Pada kenyataannya, dua penyakit ini sangat
berbeda. Penderita MPD memiliki dua atau lebih kepribadian dalam
dirinya dalam satu waktu. Dan banyak ahli psikologi yang ragu kalau
penyakit seperti ini benar-benar ada. Schizophrenia sebaliknya, memiliki
fungsi psikologi yang terpisah-pisah, khususnya emosi dan berpikir.
Bagi orang normal, apa yang kita rasakan dan pikirkan sekarang akan
berhubungan erat dengan apa yang kita rasakan dan pikirkan beberapa saat
lagi. Tapi bagi penderita Schizophrenia, pikiran dan emosi tersebut
dapat berubah begitu cepat dan ekstrim. Kepribadiannya tetap sama, hanya
saja emosi dan pikirannya yang tidak terprediksi. Akibatnya orang
skizophrenia justru memiliki resiko rendah melakukan bunuh diri,
mengalami depresi, ketakutan, penyalahgunaan narkoba, pengangguran dan
tuna wisma. Wajar saja, bila sekarang ia merasa begitu sedih beberapa
saat lagi ia menjadi sangat senang. Bagi orang normal, sekarang ia
merasa begitu sedih, beberapa saat lagi mungkin ia akan bunuh diri atau
depresi. Seperti kata Irving Gottesman, “penyalahgunaan istilah
schizophrenia dalam merujuk kebijakan luar negeri Amerika Serikat, pasar
saham atau ketidak sesuaian sesuatu dengan harapan seseorang tidaklah
sama dengan masalah kesehatan umum dan penderitaan dengan penyakit
paling sulit dipahami dari pikiran manusia ini.”
Mitos : Bulan Purnama Menyebabkan Kegilaan dan Kejahatan
Mitos : Banyak Kriminal Berhasil Membela Diri dengan Mengaku Gila
FAKTA : Setelah memberi pidato tanggal 30 maret, 1981, Presiden
Ronald Reagan muncul dari hotel Washington Hilton. Beberapa detik
kemudian, enam tembakan terdengar. Satu mengenai agen rahasia, satu
polisi, satu sekretaris James Brady dan satu mengenai presiden sendiri.
Sang penembak adalah pria berusia 26 tahun bernama John Hinckley, yang
jatuh cinta dengan artis Jodie Foster dan yakin kalau dengan membunuh
Presiden, Foster akan tergugah dan jatuh cinta padanya. Tahun 1982,
saksi ahli psikologi berdebat mengenai apakah Hinckley bersalah atau
tidak karena alasan gila. Akhirnya juri memutuskan kalau Hinckley gila.
Keputusan juri memicu protes publik. Pooling ABC menunjukkan 76% rakyat
tidak setuju dengan keputusan tersebut. Dan dari sini mulailah mitos
kalau dengan alasan gila, banyak penjahat yang berhasil lolos dari
penjara. Mitos ini semakin diperkuat oleh film-film action yang
menunjukkan antagonis pura-pura gila untuk menghindari hukuman. Namun
keyakinan ini sama sekali salah. Data menunjukkan kalau pengajuan alasan
gila di pengadilan berada di bawah 1%. Dan dari semua pengajuan ini,
hanya 25% saja yang diputuskan memang gila. Lebih parah lagi, orang yang
dinyatakan gila di pengadilan akan dikirim ke rumah sakit jiwa dan
disana mereka menghabiskan waktu rata-rata 3 tahun sebelum diputuskan
apakah ia harus ditahan lebih lama atau dilepaskan. Akibatnya bagi orang
normal yang berhasil mengaku gila, tinggal di rumah sakit jiwa bisa
jadi hal yang lebih menyiksa dari di penjara. Di penjara ia punya waktu
yang jelas untuk bebas dan tidak perlu berpura-pura, di rumah sakit jiwa
tidak.
Mitos : Kita Hanya Menggunakan 10% Otak Kita
Mitos : Lebih Baik Marah daripada Ditahan
FAKTA : Dalam sebuah survey, 66% mahasiswa percaya kalau lebih baik
membiarkan marah itu lepas (katharsis) ketimbang menahannya, karena
dapat mengganggu kesehatan. Film Anger Management tahun 2003 juga
menyebarkan keyakinan ini dengan menyarankan seorang tokoh memukul
bantal atau tas sebagai penyaluran kemarahan. Bahkan ada juga psikolog
yang menyuruh kliennya berteriak atau melemparkan bola ke dinding saat
mereka marah. Sayangnya, keyakinan ini sama sekali tidak didukung bukti
ilmiah apapun kalau hal tersebut memang dapat meredakan agresi. Malahan
hal tersebut justru akan meningkatkan agresi. Lebih jauh lagi, bermain
sepakbola juga dapat meningkatkan agresivitas baik pemain maupun
suporter.Mitos : Penyebab utama masalah kejiwaan adalah Kepercayaan Diri yang Rendah
FAKTA : Mitos ini juga dimunculkan oleh para motivator berpikir
positif. Sebuah buku, Self-Esteem Games, memuat 300 aktivitas untuk
membantu anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri, seperti
mengulang-ulang afirmasi positif yang menekankan keunikan mereka. Walau
demikian, penelitian menunjukkan kalau kepercayaan diri tidak
berhubungan kuat dengan kesehatan mental yang lemah. Dalam penelitian
komprehensif oleh Roy Baumeister et al yang meninjau lebih dari 15 ribu
studi mengenai kepercayaan diri ke segala jenis variabel psikologi.
Mereka menemukan kalau kepercayaan diri kecil sekali hubungannya dengan
kesuksesan hubungan antar manusia, dan tidak berhubungan dengan pasti
pada penyalahgunaan obat-obatan. Lebih jauh, mereka menemukan kalau
kepercayaan diri berhubungan positif dengan prestasi di sekolah, tapi
hubungan interaktif ini lebih condong pada prestasi di sekolah. Artinya,
pengaruh prestasi sekolah dalam meningkatkan kepercayaan diri lebih
kuat daripada pengaruh kepercayaan diri terhadap prestasi di sekolah.
Fakta yang paling mengesankan adalah kepercayaan diri yang rendah tidak
perlu dan tidak cukup untuk menyebabkan depresi.
Mitos : Ingatan Manusia bekerja Seperti Kamera Video
Mitos : Hipnotis adalah Kondisi Khusus yang berbeda dari kondisi sadar
Mitos : Alat Pendeteksi Kebohongan (Poligraf) adalah Alat yang Akurat
FAKTA : Poligraf ditemukan tahun 1920an oleh psikologi William
Moulton Marston. Alat ini pada dasarnya alat pengukur tekanan darah
sistolik, karena ia percaya kalau saat orang berbohong, tekanan darah
sistoliknya meningkat. Mesin ini kemudian disempurnakan dengan
menambahkan pengukuran konduktansi kulit dan pernapasan. Selain hal ini
belum tentu berhubungan, grafik poligraf yang dihasilkan sulit untuk
dianalisa hingga sekarang. Ambil contoh, orang yang jujur tapi
berkeringat banyak, dapat disalah sangka sedang berbohong. Belum lagi
tidak adanya bukti kalau efek Pinokio (reaksi emosi atau fisiologi yang
hanya terjadi saat seseorang berbohong) itu ada. Satu-satunya yang bisa
ditunjukkan poligraf saat seseorang memakainya adalah bukti bahwa orang
tersebut tegang atau tidak. Dengan kata lain, poligraf bukanlah alat
pendeteksi kebohongan tapi alat pendeteksi ketegangan. Bagi para
penjahat berdarah dingin dan psikopat, mereka dapat lolos dengan mudah
lewat alat deteksi kebohongan ini. Dan sudah banyak orang yang tidak
bersalah dihukum gara-gara mesin poligraf.
Mitos : Dua Hal yang Berlawanan Saling Tarik Menarik
Sumber :
0 komentar:
Posting Komentar